|
Comment 2 of 2, added on December 7th, 2008 at 10:05 PM.
I love this poem, and I'm translating in into Indonesian. Here are the two
stanzas...
Pembaca Budiman
Baudelaire menganggapmu saudaranya,
dan Fielding menyapamu setiap beberapa paragraf
seolah memastikan kau belum menutup bukunya,
dan kini aku menyapamu lagi, wahai hantu yang perhatian,
kau sosok gelap pendiam yang menghadang
di ambang kata-kata ini.
Pope menyambutmu di terang perpustakaannya,
mengambil Ovid bersampul kulit untuk kau lihat.
Tennyson mengangkat palang pintu menuju taman apung,
dan bersama Yeats kau sandari pohon pear patah,
hari digelayuti awan rendah.
Wawan Eko Yulianto from Indonesia
Comment 1 of 2, added on March 18th, 2005 at 6:38 PM.
A poem, simple and at the same time profound.
Rao from United States
|
I love this poem, and I'm translating in into Indonesian. Here are the two
stanzas...
Pembaca Budiman
Baudelaire menganggapmu saudaranya,
dan Fielding menyapamu setiap beberapa paragraf
seolah memastikan kau belum menutup bukunya,
dan kini aku menyapamu lagi, wahai hantu yang perhatian,
kau sosok gelap pendiam yang menghadang
di ambang kata-kata ini.
Pope menyambutmu di terang perpustakaannya,
mengambil Ovid bersampul kulit untuk kau lihat.
Tennyson mengangkat palang pintu menuju taman apung,
dan bersama Yeats kau sandari pohon pear patah,
hari digelayuti awan rendah.
Wawan Eko Yulianto from Indonesia